Pilih aku atau TUHANMU?

ImageBelakangan ini beredar kontroversi  film Cinta tapi Beda-nya Hanung Bramantyo. Meski belum melihat film ini, saya telah membaca sedikit sinopsisnya. Tidak – tidak, saya tidak ingin membahas isi dan materi dari film ini, namun pemberitaan mengenai film ini mengingatkan saya akan beberapa cerita cinta dan pernikahan beda agama atau bahkan pernikahan setelah pindah agama yang terjadi di lingkungan saya.

Sebagai insan, apalagi wanita, bagi saya cinta itu indah. Rasa dari cinta tidak dapat dilukiskan secara sempurna karena tidak ada kalimat dan kata yang mampu utuh menjelaskan harkat dan makna cinta. Bahkan, durinya pun akan terasa indah di dalam nama cinta. Saya percaya bahwa cinta itu dapat datang tanpa diperkirakan, bisa saja cinta jatuh di orang yang kurang tepat, cinta mengejutkan. Banyak kan cerita cinta yang tidak terduga, seperti kisah cinta sampek engtay, laila majnun, atau kisah cinta Khalil Gibran dengan May Zaidah dimana mereka bahkan tidak pernah bertemu sama sekali.

Saya percaya cinta itu adalah misteri yang tidak dapat dicerna oleh orang yang tidak pernah merasakan cinta itu sendiri.

Lalu bagaimana bila cinta datang di antara dua insan yang memiliki keyakinan yang berbeda. Bukan sekedar adat, kasta, pendidikan yang berbeda, namun keyakinan.  Keyakinan terhadap Tuhan yang menciptakan dunia beserta isinya. Berbeda dalam bentuk penghambaan terhadap Sang Maha Kuasa, bahkan berbeda definisi mengenai Sang Maha Kuasa itu sendiri. Keyakinan terhadap Tuhan ini sangat mendasar, karena hampir setiap hal dalam hidup kita bergantung dalam praktik – praktik penghambaan. Dari sekedar penyebutan sehari – hari, “ya Tuhan”, “O My God”, bentuk syukur, sampai dengan bentuk konkrit lainnya seperti ‘mengunjungi’ Tuhan di rumah peribadatan masing – masing, apalagi apabila si insan benar – benar menjalankan kepercayaannya utuh.

Saya pernah membaca bahwa sebagian agama di dunia (baik agama samawi maupun ardhi) melarang pernikahan beda agama, ada juga agama yang melarang namun memberikan izin dengan beberapa syarat, seperti misalnya anak – anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut harus mengikuti agama tersebut, bagaimana dengan hukum negara, di Indonesia pernikahan beda agama tidak secara tegas di larang, masih terdapat celah hukum di dalamnya akan tetapi bukan berarti pernikahan beda agama mudah di lakukan di Indonesia, sangat sulit dan rasanya jarang terdengar.

Saya rasa, kesulitan menyatukan cinta inilah yang kemudian membuat sebagian dari mereka yang terlanjur jatuh cinta tapi beda  ini memutuskan untuk berpindah keyakinan.

Pertanyaan saya, apakah cintanya telah sedemikian besar sehingga mengalahkan cintanya terhadap Tuhan yang selama hidupnya telah ia yakini. Sebagian menjawab bahwa ia telah mempelajari agamanya yang baru dengan begitu mendalam, sehingga kemudian dapat memutuskan untuk berpindah. Lalu, apakah sebelumnya ia telah mempelajari agama asalnya dengan begitu mendalam tersebut, sehingga kemudian ia dapat memberikan kesimpulan demikian, apakah sebelumnya ia telah menjadi hamba Tuhan yang taat – dan kemudian ia tersadar bahwa Tuhan dan cara penghambaannya tidaklah sesuai (dan dapat menjamin kehidupan nya selama hidup dan setelah hidupnya), maka ia berpindah ke jalan hidup yang lain? – apapun agama dan kepercayaan asalnya.

Apakah ketika ia mempelajari agamanya yang baru, ia meminta petunjuk kepada Tuhannya yang sebelum? Atau meminta kepada Tuhan yang akan ia pilih kemudian? Apakah ia mempelajari agamanya yang baru dengan berlandaskan cinta terhadap kekasihnya, atau karena kekosongan jiwanya akan keTuhanan selama ini? Apakah layak Tuhannya disandingkan dengan kekasihnya???

Pertanyaan – pertanyaan tersebut berulang kali melintas di pikiran saya, saya memahami arti cinta, saya adalah pecinta, maka saya tau rasanya cinta. Tapi, saya juga cinta Tuhan yang selama ini saya yakini, dan tidak pernah saya merasa pantas menyandingkan Tuhan saya dengan siapapun atau apapun, meski dalam keadaan iman terendah. Saya merasa bahwa, ilmu agama saya masihlah kurang dan kurang ketika saya terjatuh dalam kadar iman yang rendah.

Seringkali saya mendengar sebagian berkata, “kalau tau beda agama, kenapa dijalankan”, “Kalau cinta, mengapa tidak menerima perbedaan?“ ya, meski kita memahami bahwa cinta itu dapat hadir kapan saja, tapi ketika kita menyadari ada perbedaan yang sangat mendasar, kenapa lantas kita melanjutkannya – kecuali apabila kita telah memahami dengan semua konsekuensi yang ada – bukan sekedar “dijalani saja dulu – lihat nanti”.

Kembali terngiang, apakah pantas Tuhan disandingkan dengan kekasih kita?

SFA

Advertisements

2 responses to “Pilih aku atau TUHANMU?

  1. Atau mungkin ada kesalahan pemahaman terhadap makan cinta. Apakah benar itu yang disebut dengan cinta atau hasrat, nafsu? Bisa jadi sebenarnya yang sering kita namai cinta itu sebenarnya adalah nafsu diri?

    Cinta terhadap beda agama masih mending, setidaknya mencintai atau menikahi sesama manusia. Bagaimana dengan manusia yang menikahi anjing atau binatang peliharaannya?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.