Jakarta aaaaaa Jakarta

Pagi hari di Jakarta. Pukul 5 pagi. Saya sudah berada di dalam kendaraan yang akan menghantarku menuju Medan Merdeka Barat, tempatku bekerja kala itu. Suasana pagi yang tenteram dan damai. Jalan tol cibubur- dalam kota yang kulalui juga tidaklah padat. Kuhabiskan waktu satu jam itu untuk membaca buku.

Pagi hari di Jakarta. Sekitar pukul 06.20 pagi. Saya sudah berada di dalam kendaraan yang menghantarku menuju lokasi tempatku bekerja, di Jl Medan Merdeka Barat. Suasananya jalan sudah mulai padat. Udara pagi yang segar mulai terkoyak dengan asap kendaraan yang sudah mulai susah dihitung jumlahnya. Memasuki pintu tol cibubur dilalui dengan padat merayap. Sekitar 2 jam, aku baru tiba di kantorku. Panas mulai menyengat ketika ku menjejakkan kaki menyebrangi patung kuda di depan Indosat.

Pagi hari di Jakarta. Sekitar pukul 7 pagi. Kendaraan yang menghantarku ke kantor mulai berjejal – beradu tempat dengan kendaraan lainnya untuk memasuki pintu tol cibubur. Dari tol cibubur sampai tol taman mini dilalui dengan cukup padat. Tapi tidak sepadat di dalam tol dalam kota. Kadang supir kendaraan yang saya tumpangi harus mengubah rute untuk mengurangi efek kemacetan.

Bila berangkat pukul 8 pagi ! jangan ditanya, jalanan bukan lagi padat merayap tapi – padat ngesot. Bahkan, belakangan ketika kantor saya pindah ke daerah senayan (lebih dekat sebenarnya) keadaan tidak berubah. Jalanan penuh sesak, asap knalpot merusak udara pagi, panas menyengat bercampur dengan panas asap kendaraan. Bukan pemandangan yang mengasikkan.

Apalagi bila harus berdiri di bis, kemudian bertemu dengan orang yang emosi. Membuat suasana hati menjadi ga karuan. Bisa saja mood kita berubah lantaran kondisi jalanan yang menyiksa batin. Syukur – syukur kalau setiba dikantor kita bisa menikmati ruangan ber ac dengan minuman segar di hadapan. Tapi, kalau yang ada adalah kerjaan bertumpuk, deadline, tatapan boss yang kurang ramah. Waduh! Ini mau kerja atau perang ya.

Jakarta, saya cinta Jakarta. Mau dibilang Jakarta ini sesak, kotor, penuh polusi, marak dengan pengamen, pengemis, bahkan penjambret. Saya tetap cinta Jakarta. Paling tidak saya tidak membuang sampah sembarangan (termasuk tidak di dalam bis atau angkot yang saya tumpangi). Andai penduduk Jakarta penuh dengan kedisiplinan, menjaga kebersihan (baik kebersihan kendaraannya, juga kebersihan lingkungannya), menyebrang, naik dan memberhentikan kendaraan pada tempatnya, tidak berjualan di tempat yang tidak semestinya, aaaa Jakarta – Jakarta….

SFA 01.05.2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.