In Searching of The Right Man – Part 2

Tulisan ini hadir (kembali) sesaat setelah saya menerima undangan dari Sahabat saya. Undangan dengan tulisan ‘do’a waalimatul ursy’ di depannya. Saya merasa bahagia menerima undangan tersebut, membaca namanya didalamnya. Masha’Allah, hari itu akhirnya datang juga. Hari yang membahagiakan, yang Insha’Allah menjadi awal hari – hari penuh berkah bagi sahabat saya dan pasangannya, amin ya Rab.

Saya masih ingat jelas, bagaimana ia dulu. Sahabat yang kukenal sejak kami masih duduk di bangku SMP, ia seringkali melontarkan kalimat – kalimat pesimistis. DULU, ia begitu pesimis. Sampai suatu saat, ia hijrah. “Berubah hampir 180 derajat” ucap saya padanya. Sahabat saya itu menjadi sosok yang penuh kelembutan, kata – katanya berubah dan mengandung nada semangat didalamnya. Mungkin karena Ibunda tercintanya pergi mendahului yang membuatnya berubah, atau entah apa. Yang pasti hidayah Allah memang tiada taranya.

Mengetahui ia akan segera menikah, menghentakkan saya (kembali). Saya pun belum menikah. Dan mungkin sejak akhir tahun lalu, saya berupaya memendam keinginan tersebut. Saya takut kecewa lagi. Rasanya tidak akan sanggup saya apabila menghadapi satu kekecewaan lagi. Mungkin saya akan tetap mampu menjalani aktifitas hari – hari, namun hati – di dalam hati saya – saya takut tidak akan pernah pulih dari kekecewaan.  Bukan, Saya bukanlah orang yang pesimis, tapi ketakutan ini teramat besar. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya yang membuat saya merasakan demikian.

Siang ini, melihat sahabat tercinta saya akhirnya menikah. Membuat saya merasakan bahagia yang mengharukan. Sedikit banyak saya mengikuti bagaimana ia melalui hidupnya, yang tidak bisa dibilang mudah. Ia dan saya menjalani ujian kami masing – masing. Sahabat saya yang kuat. Ya Allah, ya Rab. Engkau memang maha segalanya, engkau menjawab do’a hamba – hambaMu dengan caraMu sendiri, dengan jalan yang tidak pernah diduga. Haruslah selalu ber husnuzhzhan terhadap Allah. saya pernah mendengar hadist riwayat Maarafil Qur’an bahwa Apabila kamu berpikir positif terhadap Allah. Maka kamu akan temukan Allah sesuai dengan prasangkaanmu. Maka apabila kita berpikir baik terhadap Allah, maka Allah pun akan berpikiri baik terhadap kita dan sebaliknya.

Semangat, harap dan keinginan untuk menikahpun hadir kembali. Bisakah saya mengambil resiko ini, beranikah saya meminta kembali kepada ALLAH. Bertawakal padaNya dengan segenap hati saya. Maka saya katakan YA. Saya siap berserah diri kepada ALLAH. Meski apabila pada akhirnya ALLAH menetapkan lain bagi hidup saya.

Dulu, saya mengatakan pada diri saya . Pasangan saya telah tersedia – available. Hanya saja ia telah berada di level 5 sementara saya masih di level 3, maka saya harus mengejarnya. Meningkatkan keimanan saya, kecintaan saya kepada ALLAH untuk mendapatkan yang terbaik dariNya.

Bukankah ada hadist Rasulullah yang mengatakan “wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, karena agamanya. Maka utamakan karena agamanya, kalau tidak maka rugilah engkau”

Jadi ya, sebagai seorang muslimah haruslah meningkatkan nilai agama dalam dirinya. Bila mengingkan yang terbaik.

Tidak dipungkiri. Bahwa godaan selalu saja ada, bahkan tidak hanya satu, dua dan tiga. Godaan yang membahayakan iman saya. Terkadang membuat dada saya terasa sesak. Dan berharap, andai saya memiliki seseorang – siapapun orangnya – untuk memarahi saya, menasehati saya, melindungi saya sehingga saya tidak harus bertahan seorang diri. Saya sempat meminta salah seorang sahabat saya untuk menjadi seperti itu, tapi mungkin ia merasa tidak jauh lebih baik dari saya sehingga tidak pantas melakukannya. Saya pun berusaha menanamkan bahwa walaupun saya harus menghadapi godaan duniawi ini sendiri, selama ada Allah disisi saya – saya harus kuat. Nyatanya – saya tetap membutuhkan dukungan manusia lainnya.

Kadang saya bertanya, mengapa setelah sekian lama meminta, berupaya tapi tidak juga diberikan. Kemudian yang hadir dalam hidup saya adalah godaan duniawi dan pria – pria yang justru membuat saya harus merasakan duka. Meski saya berupaya memaknai setiap duka tersebut. Karena saya tetap berupaya percaya bahwa selalu ada hikmah dibalik semuanya.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Al Insyirah 5 – 6)

Meski mempercayai hal diatas, tapi sebagai manusia, saya juga memiliki sifat yang kurang puas terhadap sesuatu.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia akan berkata, “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” (Al Fajr 15 -16)

Kadang saya merasa ada pertanyaan terselip, mengapa, andaikan, harusnya. Tapi hari ini saya diingatkan kembali bahwa jawabnya adalah Allah menguji saya dengan ujian yang Insha’Allah bisa saya lalui dan ketika saya tidak sanggup. Maka katakan pada Allah dengan jujur bahwa saya tidak sanggup. Jangan katakan, saya tidak akan menyerah. Karena, seberapapun kuatnya – saya hanyalah manusia. Mintalah Insha’ALLAH akan diberi.

Hari ini, adalah awal.

“Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa”

Insha’Allah, keberkahan dan kebahagiaan selalu beserta sahabat saya. Saya sayang dia,

SFA, Cimanggis – 24 April 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.