Ayah – semangatku

Tidak terasa 6 tahun sudah, beliau tiada. Senyumnya yang lirih, ucapannya yang lembut, semangatnya yang Masha’ALLAH tidak pernah hilang dari ingatan. Hanya dengan mengingatnya, hati ini terasa malu bila memiliki keinginan untuk menyerah. Ia mengajarkan saya bagaimana bertahan dan berjuang. Ia mengajarkan saya bagaimana mempertahankan kejujuran. Menyelipkan airmata dibalik senyuman.

Saya ingat kala itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Pagi hari. Saya hendak berangkat ke sekolah mengikuti lomba senam kesegaran jasmani. Tiba – tiba, sepatu satu-satunya yang saya miliki lepas lapisan bawahnya. Sepatupun ga bisa dipakai. Lantas, beliau mengambil sepatu itu dan dengan segera mengambil jarum dan benang berwarna hitam yang ia gulung berkali kali agar kuat dan mulai menjahit sepatu tersebut. saya duduk di pinggir meja. Begitu selesai, beliau berkata, “coba ka pakai. Nyaman? Kalau  ga begitu nyaman ga apa. Yang penting kaka semangat. Masalah ini masalah kecil, sepatu rusak bisa dibenerin  kalau semangat kaka yang hilang, kaka bisa ga sekolah, ga ikut lomba dan ga menang.” Lalu beliau cium kening saya. Kata – katanya begitu menenangkan membuat saya merasa sangat bersemangat.

Saya pun masih ingat jelas, bagaimana beliau begitu menikmati makan malamnya yang hanya dengan nasi dan air putih yang diberi garam. Katanya, “Papa ga bisa kalau ga pakai kuah” bertahun kemudian saya baru menyadari bahwa bukan karena beliau ga bisa kalau ga pakai kuah, tapi beliau ga ingin makan tahu, tempe atau ayam yang hanya ada sedikit – cukup untuk saya, mama dan adik saya.

Kebiasaan yang saya pun tanpa terasa mengikutinya sampai sekarang.

Ia selipkan puisi Khalil Gibran “Anakmu bukan milikmu” di tas kuliah saya. Ia tidak sampai hati rupanya menyampaikan bahwa ia tidak suka dengan jalan pikiran saya terhadap suatu hal saat itu. Ia memilih menyampaikannya melalui puisi. Bahwa ia tidak bermaksud memaksakan pikirannya untuk menjadi pikiran saya. Karena meski saya berasal darinya saya bukan miliknya. Sayapun memeluknya dan menyimpan puisi itu di dompet saya sampai sekarang. Pelukan yang diiringi dengan, ““papa sayang kaka” pelukan yang begitu saya rindukan. Teramat rindu.

Saya rindu beliau, saya butuh beliau di hampir setiap saat dalam hidup saya. Belum lagi saya membalas semua kasih sayangnya. Saya mencintai ayah saya dengan sepenuh jiwa saya.

Papa – semangat saya untuk tetap tersenyum. Apapun itu !

“Kaka, sukses ya” ujarnya setiap hari.

“Kaka bangga sama Papa”….ujar ku dalam hati.

SFA, Senayan 20 April 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.