Mencintai Shalat-ku

Mungkin tidak semua muslim pernah mengalami phase ini, tapi saya rasa paling tidak beberapa muslim pernah mengalami situasi dimana ia merasa bahwa shalat dan ibadahnya mengalami kemunduran. Bisa jadi ia berulang kali merasakan turunnya  kadar keimanan, atau berada dalam phase dimana ia merasa kualitas shalatnya berkurang dan shalatnya hanya sebagai pengisi ritual  tanpa merasakan nilai – nilai spiritual – khususnya kedekatan dengan Allah. Kemudian ia akan merasa bahwa kesehariannya tidaklah menjadi lebih baik – tapi malah menurun. Shalatnya tidak lagi dapat mencegahnya dari perbuatan – perbuatan yang tidak baik.

Situasi  seperti ini bisa jadi menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi keimanannya. Terlebih apabila sebelumnya ia pernah merasakan moment spiritual dalam beribadah. Moment dimana seorang muslim merasa begitu dekat dengan Allah, merasa bahagia, indah, haru, perasaan – perasaan yang susah diungkapkan dengan kata – kata.  Hingga ketika ia merasa bahwa shalatnya tidak lagi indah, ketika ia merasa bahwa shalatnya bahkan belum bisa membuatnya meninggalkan kemungkaran – padahal jelas dalam Al Qur’an dikatakan bahwa Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Ankabuut: 45). Maka apabila seorang muslim berada dalam kondisi demikian saat itulah ia harus berpikir bahwa ada yang harus diperbaiki dalam shalatnya.

Dari yang saya pahami shalat adalah suatu aktivitas yang melibatkan fisik dan ruh, menjalankan gerakan shalat dan melafalkan bacaan – bacaan shalat menjadi belum sempurna apabila hati kita pun tidak turut shalat. Mungkin saya salah, tapi menjaga hati dan akal tetap konsisten dalam shalat bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Saya pernah membaca bahwa seseorang bisa masuk neraka ataupun surga, akan disebabkan oleh hatinya. Hati adalah inti dari segala amal perbuatan. Lalu ketika muslim tidak lagi merasakan kekhusu’an hati dan akalnya dalam shalat maka shalatnya pun menjadi aktivitas ritual tanpa keindahan spiritual. Lantas bagaimana agar hati dan fisik kita bersatu dalam menjalankan shalat. Mmmm, di bawah ini hal – hal yang saya rasa dapat memperbaiki shalat saya dan membuat saya mencintai shalat saya.

Saya pernah membaca bahwa salah satu cara untuk mendapatkan kualitas shalat yang utama faktor kebersihanpun harus diperhatikan seperti mempersiapkan lokasi shalat di tempat yang bersih, menggunakan pakaian yang bersih, semuanya bebas dari hadas kecil apalagi besar (Ibrahim Elfiky), sebagaimana hadist nabi ‘Ath-thahuuru syatrul iimaan’ – bersuci itu setengah daripada iman. Berarti menurut hemat saya, kekhusu’an sudah harus dimulai dari proses wudhu. Ketika saya masih di madrasah dulu, salah seorang guru saya pernah mengajarkan kepada saya bahwa setiap gerakan wudhu adalah do’a. mulai dari membasuh tangan tiga kali – dengan harapan bahwa tangan kita akan terhindar dari perbuatan yang tidak di Ridhai Allah, berkumur – kumur – agar lisan terjaga dari hal – hal yang buruk, membersihkan hidung agar apa – apa yang kita cium adalah hal – hal yang memang baik untuk kita, membasuh wajah – agar wajah kita senantiasa bersinar dan juga terhindari dari pandangan buruk, membasuh lengan – agar selalu mengamalkan perbuatan baik, membasuh dahi sampai ke arah tengah kepala – agar akal dan pikiran kita senantiasa terjaga dari hal – hal yang tidak baik, membersihkan telinga agar kita terhindar dari suara – suara yang tidak ada manfaatnya, dan terakhir membasuk kaki agar kita selalu berjalan di jalan yang benar. Saya rasa dengan menanamkan tujuan – tujuan tersebut di setiap gerakan wudhu kita dapat membantu kita dalam meraih kekhusu’an dalam shalat.

Kemudian berusaha memahami arti bacaan dalam shalat juga akan membuat kita merasakan nikmatnya shalat (Ibrahim Elfiky). Karena dengan mengetahui arti dalam setiap bacaan yang kita lafazkan akan membuat kita lebih memaknai shalat kita. Bukankah ketika kita berbicara juga lebih baik membicarakan hal – hal yang kita kuasai dengan baik.

Disamping itu faktor fisik juga bisa turut menjadi penyebab hilangnya spiritualitas dalam shalat. Pekerjaan yang menyita waktu bisa jadi membuat muslim terlupa waktu shalat. Atau kemudian melakukan shalat terburu – buru lantaran waktu shalat yang hampir habis. Konsentrasi pun dapat terpecah apabila kondisi fisik tidak fit. Tapi pandangan ini rasanya kurang tepat. Karena sebenarnya shalat adalah salah satu cara mengembalikan kondisi fisik. Di tengah penatnya pekerjaan – kemudian kita menunaikan shalat – lumrahnya shalat menjadi sarana relaksasi. Mulai dari basuhan wudhu yang dapat menyegarkan hingga salam dan moment permohonan kita kepada Allah setelah menunaikan shalat adalah benar – benar moment yang penuh kesan – susah diungkapkan dengan kata – kata. Tapi rasanya dalam shalat bisa terjadi letupan kegembiraan, semangat, sedih, harapan – tidak dapat diungkapkan dengan kata – kata.

Rasanya, untuk kita yang memiliki aktivitas yang sibuk (atau bahkan super sibuk) harus tetap bisa meluangkan waktu untuk shalat tepat pada waktunya. Anggaplah shalat tepat waktu adalah bagian dari sikap disiplin kita. Toh waktu shalat rata – rata sama setiap harinya. Mungkin kita bisa menghindari dosa dosa besar seperti pembunuhan, pencurian, perzinahan. Tapi sukar rasanya untuk konsisten shalat tepat pada waktunya. Konsisten menjalani shalat dengan khusyuk, bahkan mungkin ada kalanya terasa berat untuk bangkit dari tempat tidur untuk melaksanakan shalat Shubuh – apalagi shalatul Lail. Kekonsistenan merupakan hal yang cukup memiliki peranan terhadap kehidupan manusia. Konsisten atau tidaknya ia dalam melakukan sesuatu bisa berdampak terhadap kesuksesan hidupnya. Contohnya seseorang ingin dietnya berhasil maka ia harus konsisten menjaga pola makannya.Waktu itu rekan sekantor saya pernah membuat tulisan begini intinya “yang memanggil dan menyuruh kita untuk shalat adalah Allah – Tuhan yang menciptakan kita, apa pantas kita menunda – nunda panggilanNya?” lantas saya juga berpikir apa kemudian masih pantas apabila kita mengharapkan do’a – do’a kita dikabulkan secepat – cepatnya sementara kita saja masih menunda waktu shalat? Atau shalat sekedarnya? Rasanya kalau kita mau mendapat yang terbaik ya kita harus juga melakukan yang terbaik.

Dan rasanya apabila kondisi pikiran menyebabkan hilang atau berkurangnya kekhusuan dalam shalatpun harusnya bukan menjadi alasan. Karena sesungguhnya Shalat dapat memberikan ketenangan. Dan moment sujud – adalah moment yang benar – benar sukar dilukiskan. Keseluruhan shalat adalah obat bagi jiwa – hati – pikiran dan raga. Terlebih rasanya malu apabila merasa bahwa masalah yang dihadapi merupakan masalah yang membebani. Sementara saudara – saudara yang lain mengalami yang jauh lebih menguji keimanan tapi mereka masih mampu untuk istiqamah – taat dan beribadah ikhlas untuk Allah. “Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang – orang yang khusyuk.” (Al Baqarah : 45)

Shalat bagi saya membutuhkan ketulusan, kejujuran dan kerendahan hati. Saya tidak hanya bicara tentang pelaksanaan shalat lima waktu – tapi nikmatnya shalat – indahnya moment spiritual di setiap gerakan dan bacaan shalat merupakan hal yang benar – benar membutuhkan kejujuran kita dalam melaksanakannya. Keindahan shalat inilah yang teramat saya rindukan.

Pasti semuanya sepakat bahwa shalat 5 waktu adalah ibadah wajib yang  harus dilakukan oleh setiap muslim. Dasar hukumnya jelas, salah satunya adalah surat Thaaha (14) : “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (Yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Meski demikian, hingga saat ini saya belum menemukan bagaimana saya bisa meraih kembali moment – moment indah yang tidak bisa dilukiskan dengan kata – kata tersebut. Sementara saya berharap kepada Allah agar bisa memberikan petunjuk sambil paling tidak berupaya menerapkan hal – hal yang disebutkan di atas.

Semoga sharing tulisan saya ini tidak menjurus kepada kesombongan dan lain sebagainya yang bersifat negatif. Saya pernah membaca bahwa alam bawah sadar kita cenderung merekam kejadian – kejadian spontanitas, hal – hal yang kita lakukan secara kontinu serta apa yang kit abaca – alam bawah sadar kita pun akan merekamnya. Hingga saya berpikir mungkin apabila saya juga menuliskan apa – apa yang saya pikirkan dan yang saya baca mungkin dapat membantu saya untuk lebih baik, Insha’Allah.

SFA, 09.03.2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.