Linkin Park vs Sami Yusuf

Dulu – sampai kurang dari dua tahun yang lalu. Setiap bait – lirik – yang dikumandangkan Linkin Park (LP) melekat erat di ingatan, ngga senang ngga sedih (sampai – sampai bisa menangis apabila mendengarkan lagu LP – terutama yang numb), kapanpun, dimanapun lagu – lagu linkin park terasa begitu menyatu. Bahkan tidak segan berujar, ‘lagu – lagunya LP tuh gua banged’ … (oopppsss).

Intinya LP terasa menyatu dengan diri, kala itu.

Tidak hanya lagu – lagu LP, saya juga menyukai Green day, Britney Spears atau yang lebih kalem seperti Gary Barlow, Jason Mraz, Celine Dion dan boyband. Saya cenderung menyukai musik (khususnya yang berbahasa Inggris) dengan ritme dan beat yang berenergi dan juga yang easy listening. Terutama apabila lagu tersebut menyuarakan hati seperti jatuh cinta, patah hati, sakit hati, menyuarakan duka yang terpendam. (Dulu saya menyebutnya sebagai lagu yang menyuarakan perjuangan jiwa – ehem)

Sampai suatu hari, saya mendengar lagu Sami Yusuf yang berjudul Hasbi Rabbi :

O Allah the Almighty
Protect me and guide me
To your love and mercy
Ya Allah don’t deprive me
From beholding your beauty
O my Lord accept this plea

Liriknya begitu meresap ke hati hingga membuat saya langsung membuka website telkomsel dan me-request NSP nya (meski kemudian salah memasukkan kode – dan lagu Sami Yusuf yang ummah lah yang kemudian menjadi NSP saya). Bukannya ngga pernah mendengarkan lagu – lagu bernada Islami. Saya juga mendengar lagu islami seperti Izzatul Islam, Raihan, Snada. Tapi kala itu bagi saya tidak ada yang mewakili hati saya sebagaimana Linkin Park dan teman – temannya.

Ga berapa lama, sesuatu menyeruak masuk ke pikiran saya. Saya mulai serius memikirkan bagaimana dampak lagu – lagu dewasa terhadap anak – anak kecil (semula saya tidak begitu serius memikirkannya), melihat bagaimana si anak (termasuk pengamen – pengamen kecil di jalan) secara khusyuk menyanyikan lagu bertema dewasa yang lantas membuatnya bertanya apa yang sebenarnya diceritakan di dalam lagu tersebut, lalu mungkin karena penasaran ia akan mencoba melakukan yang ia dengarkan di lagu tersebut dan ketika ia mengalami apa yang diceritakan di dalam lagu tersebut (misalnya tema patah hati) maka otak bawah sadarnya akan mengirimkan pesan untuk melakukan hal yang ada di dalam lagu yang (pernah) ia resapi tersebut. HO! Begitu bahaya lagu terhadap jiwa. Apabila ia bisa mempengaruhi anak kecil, bukan tidak mungkin bisa mempengaruhi remaja dan dewasa. Dan saya telah membiarkan diri saya terlena oleh lagu – lagu jenis tersebut yang sama sekali tidak islami – bahkan cenderung membuat saya menjauhi adab – adab islam.

Saya tidak pernah merasa begitu terhentak dengan dampak lagu terhadap jiwa. Terlebih saya tidak merasa bahwa diri saya adalah orang yang jauh dari agama. Intinya saya merasa lagu yang saya dengar tidak ada hubungannya dengan pembentukan kepribadian saya – yang saya nilai masih berada di jalur yang benar.

Saya pernah mendengar beberapa hadist yang mengharamkan mendengarkan musik. Saya rasa bisa di googling hadist – hadist tersebut. Terus terang saya orang awam yang tidak bisa memastikan 100 % ke sahi’an suatu hadist. Yang saya tau adalah para perawi yang menuliskan hadist dan para ulama tersebut pastilah lebih pemahamannya terhadap agama daripada saya.

Lantas saya ucapkan selamat tinggal kepada musik – musik yang menurut saya tidak membawa manfaat.

Forget our memories
Forget our possibilities
What you were changing me into
Just give me myself back and
Don’t stay

Tapi yang membuat saya lantas benar – benar meninggalkan musik jenis tersebut adalah karena saya merasa bahwa musik tersebut tidak membuat saya lebih mencintai Allah. Musik tersebut tidak membuat saya meningkatkan zikir, tidak membuat saya lebih menjaga ahlak, tidak mengajak saya mendalami Al qur’an lebih. Musik (dengan lirik kecintaan terhadap manusia, duniawi dll apalagi disertai video klip yang tidak islami) tersebut tidak membantu saya meningkatkan kadar keimanan saya. (Dulu saya beranggapan bahwa iman saya baik – baik saja di level sekian, dan musik tersebut membantu saya menemukan ketenangan, mengembalikan semangat (terlebih musik dengan beat yang cepat), membuat saya menjadi lebih baik. Tapi pertanyaannya adalah baik menurut siapa? ).

Saya lantas menjadi hilang selera sampai ketitik nol terhadap apapun jenis musik yang mengandung unsur cinta duniawi, perasaan yang melo, ajakan untuk menyelesaikan masalah dengan cara tertentu – apapun bahasanya – siapapun penyanyinya.

Saya masih dan selalu mendengarkan musik. Pilihannya beralih ke Sami Yusuf, Haddah Alwi, Raihan, Yusuf Islam. Yang Masha’Allah, setiap kali mendengarnya membuat kerinduan saya akan Allah dan Rasulullah semakin tinggi. Yang setiap kali mendengarnya membuat saya merasa harus semakin meningkatkan ilmu ( bukankah ‘ilm’ (Ilmu) adalah kata kedua terbanyak di Al Qur’an setelah Allah).

Hingga bukan karena saya memperdebatkan haram – halal nya musik, bukan karena ketidaksukaan terhadap si penyanyi, atau bahkan ras tertentu, bukan karena fanatisme berlebihan terhadap agama saya. Tapi karena musik yang saya maksudkan diatas tidak membawa faedah untuk saya terutama karena saya ingin lebih mencintai Allah – apapun caranya dan medianya – saya ingin selalu lebih mencintai Nya.

Wallahualam bissawab.

Mohon maaf apabila penulisan ini tidak sesuai dan tidak berkenan.

SFA – 13 – 09 – 2010

5 responses to “Linkin Park vs Sami Yusuf

  1. Pingback: Linkin Park vs Sami Yusuf – Part 2 « Through my eyes·

  2. Mirip, meski pengalaman dan bagaimana seseorang menyikapi pengalaman itu berbeda. Dulu, saya juga senang mendengar lagu pop bahkan merekamnya dari MTV. Dulu itu mungkin SMP; masa ketika remaja “mencari jati diri”. Berpindah-pindah mencari pegangan karena masih labil.

    Saya juga khawatir dengan remaja yg gemar nonton dan datang ke acara musik sekarang ini. Mau ke mana mereka di masa depan? Tapi bukankah kita juga pernah mengalaminya? Mungkin butuh waktu agar mereka sedikit dewasa dan menyadarinya kesia-siaan tersebut.

    Sekarang, saya hampir meninggalkan semuanya. Meski juga beralih dengar nasyid, tapi terkadang nasyid-nasyid tersebut tidak lebih dari sekedar musik yg membuat kita “berdendang”. Walhasil, terkadang saya mikir, telinga yg akan bersaksi di akhirat nanti akan berkata apa?

    *Sorry jadi curhat di sini* 😀

    • iya, dulu saya juga secara sengaja mengkoleksi lagu – lagu LP dan sejenisnya, datang khusus ke pementasan musik dan bahkan turut bermain musiknya..Jadi kita semua sama ya…

      Saya butuh waktu yang ga sedikit untuk menyadari bahwa semua itu ga oke, Insha’Allah aja remaja sekarang ga selama saya untuk menyadarinya.

      Ingin deh menggalakan lagu – lagu anak – anak yang islami. Salud untuk Hadad Alwi, meski mungkin belum sempurna untuk sebagian orang. bagi Saya, beliau telah melakukan hal yang sangat bermanfaat khususnya untuk anak – anak kecil..

      aaa….ingin doang… ga dilakuin….fufufu… sama aja bohong, ya…

      moga telinga, lisan, mata —- tubuh dan pikiran kita bisa terjaga selalu dari hal – hal yang sia – sia…

  3. Like it! Sama seperti yg saya rasakan jg, dulu suka mendengarkan lagu2 LP, atw yg lainnya. Memang tidak membawa faedah apapun mendengarkan lagu2 seperti itu,,lagu2 “dunia”! Lain ketika kita mendengarkan lagu yg bernuansa islami, seperti nashid (yg seharusnya adalah nashid tidak memakai instrumen musik)

    Ketika kita mendengarkan lagu2 yg sekarang, pop, R&B, rock atw semacamnya, lagu sedih atw riang, kita akan terlena, khayalan kemana2. Denger lagu sedih kita jd melamun, itu lah yg disebut haram, karena hanya menyia2kan waktu.

    *sorry jadi “ceramah” disini 🙂

    • ^_^
      iya, bener – bener – bener….ketika mendengarkan lagu tuh bisa terlena trus menghayal deh…
      Jadi, jauh lebih baik kalau mendengarkan lagu – lagu islami…

      dulu, saya bisa nangis loch kalau denger LP padahal musiknya kan cukup keras.. tapi karena saya merasa sehati banged dengan lagu itu saya bisa sampe terbawa perasaan dan menangis.

      Alhamdulillah sekarang udah ga lagi dehh…
      lagu – lagu indonesia pun saya ga tau sekarang… kecuali kalau lagu itu sering dinyanyikan temen di kantor .. karena udah sangaaaatt lama ga nonton tv kecuali berita… atau acara masak dan napak tilas… itu juga kadang – kadang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.