“Sungguh, beserta kesulitan ada kemudahan,” (al Syarh – 6)

Ayat Al Qur’an yang satu ini selalu saya ingat, kapanpun saya merasa dalam kondisi yang sulit. Saya sangat mempercayainya. Apa yang dapat membuat saya meragukannya. Pastinya ayat itu adalah ayat Al Qur’an, janji Allah – Tuhan yang maha besar, maha kuasa atas segala sesuatunya.Bukankah janji Allah itu pasti, Allah tidak pernah ingkar janji. Dan siapa yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah?

Meski sudah dijanjikan bahwa pasti ada kemudahan dalam setiap kesulitan, tetap saja saya merasa kesulitan mencari ‘dimana kemudahan’ itu. Mungkin saya terlampau terlena terhadap alur sulit yang dipertontonkan oleh masalah yang saya hadapi (terutama apabila masalah itu adalah masalah hati), likunya membuat saya sering mengalami naik turun kadar keimanan, kadang yakin bahwa ya’ pasti ada kemudahan, pasti ada celah saya bisa keluar dari masalah ini. Di lain waktu saya merasa, no way out – saya mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk bisa bebas dari masalah ini.

Saya percaya bahwa ketika Allah menutup satu pintu ia akan membuka pintu yang lainnya, ia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jadi apa yang sebenarnya saya risaukan? bukankah Allah telah berjanji bahwa masalah yang saya hadapi itu ada jalan keluarnya, dan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Terlebih, Allah begitu baik – begitu luar biasa bagi saya, Allah berulang kali mengeluarkan saya dari masalah yang saya rasa hampir – hampir saya tidak bisa melaluinya, Allah menutupi aib saya berulang kali, Allah memberikan saya tiga kali lipat (bahkan lebih !) dari apa yang saya minta. Apa hanya karena satu masalah ini, lantas saya merasa jatuh, terabaikan, dan nyaris menyangsikan kuasa Illahi.

Kepercayaan positif itu memang ada dalam diri saya, tapi pikiran (liar) saya tidak bisa berhenti dan mengikuti begitu saja kepercayaan itu, berulang kali pikiran liar itu menyerang semangat saya (sesuatu yang biasanya paling saya andalkan untuk bangkit kembali),  ada pikiran yang membuat saya menyesali perbuatan saya, ‘harusnya saya tidak begitu saat itu’, harusnya ketika kesempatan itu muncul saya raih, bukan lantas memendam keinginan karena pertimbangan perasaan orang lain (yang belum tentu ia rasakan), harusnya saya berani bertanya, begitu banyak harusnya mengusik pikiran dan memaksa masuk ke hati. pikiran juga memaksa saya untuk menimbang tindakan dengan sangat banyak, ‘ga, saya ga boleh begini, saya ga bisa begitu, saya harus tanya dengan si A dulu, mungkin ada baiknya kalau saya begitu.. Pikiran juga membuat saya membandingkan diri saya dengan si ‘lawan’ dalam masalah saya, ‘dia begini, mungkin saya lebih buruk dari dia, atau mungkin dengan sedikit pongah, ‘saya kan lebih baik dari dia’ dan banyak lainnya.

Semua yang disebabkan pikiran (liar) hanyalah saya semakin tenggelam dalam masalah saya. Membuat perasaan saya semakin gundah dan rasanya ada bergalon – galon air mata memaksa turun. Bukankah perasaan adalah reaksi alamiah dari pikiran kita.

Oh, saya juga berpikir positif.. seperti kepercayaan saya di atas tadi. Tapi, kadang ketika menghadapi masalah saya seperti memberikan waktu kepada diri saya untuk ‘menikmati’ masalah tersebut. Membiarkan si masalah bermain di pikiran saya dan menjalar di hati. Lantas, saya ber alibi dengan ini masalah (hati) susah untuk dikendalikan, saya juga bilang, bahwa saya butuh waktu untuk kembali normal (ya, memang siapa yang tidak butuh waktu – semua ada prosesnya toh).

Sebenarnya, saya telah melakukan hal – hal yang menurut saya adalah cara terbaik. Memperbanyak ibadah. Tapi, terus terang..bahkan disaat beribadah pun saya masih menemukan rasa ‘sulit mengikhlaskan’, saya memohon bantuan Allah ta’ala untuk menggerakkan hati saya menuju keihlasan hati yang sebenar-benarnya. Ketenangan lantas mengikuti proses doa tersebut, tapi ketika saya diingatkan (teringat atau bahkan dengan sengaja mengingat) si masalah saya pun kembali ke pikiran (liar) yang mengganggu tersebut. Saya tingkatkan lagi ibadah saya, tapi kembali turun, dan seterusnya (hingga saat ini).

Tapi, saya tidak akan berhenti mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi Allah berfirman, “Sampaikanlah kabar gembira kepada orang – orang yang sabar, orang – orang yang jika musibah menimpa mereka, mengucapkan sesunguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada Nya. Merekalah orang – orang yang mendapatkan penghormatan dan rahmat dari Tuhan mereka. (Al Baqarah 155 – 157) Oh, saya memang belum benar ibadahnya, malu rasanya kalau saya bilang bahwa saya sudah beribadah baik. Tapi saya cinta Allah dan akan selalu berusaha mempelajari kitabullah dan menerapkannya dalam hari – hari, Insha’Allah.

Wiiihhh, apa lagi coba. Saya masih belum memahami mengapa saya ‘membiarkan’ pikiran negatif melintas dalam diri saya !

Saya belum bisa menjawabnya, selain dengan alibi standard ‘Saya adalah manusia’ dan manusia adalah tempatnya salah, khilaf, tempatnya dosa. Manusia adalah rangkuman dari nurani, logika, hati, akal (dan emosi). Saya tidak bisa menghindari dari naik – turunnya kadar iman saya, saya tidak bisa mengelak bahwa pikiran saya tidak bisa dihentikan (TAPI Saya percaya pikiran saya DAPAT DIRUBAH ! – Change your mindset lalu hidup anda akan berubah – Carol S Dweck).

Meski dengan kadar iman yang naik dan turun, kedekatan dengan Allah tidak akan saya kurangi – bahkan saya menginginkan lebih dari itu. Allah – lah segalanya.

(Mohon maaf untuk kesalahan saya…mohon maaf untuk nada tulisan yang mungkin tidak pantas dan menimbulkan kesan negatif tertentu)

SFA, 29-08-2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.