Abu Bakar Ash Shiddiq – Abdullah Ibn Abi Quhafah

Siapakah Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar dilahirkan di Mekkah dari keturunan Bani Tamim ( Attamimi ), suku bangsa Quraish. Nama lengkapnya adalah ‘Abd Allah ibn ‘Uthman ibn Amir ibn Amru ibn Ka’ab ibn Sa’ad ibn Taim ibn Murrah ibn Ka’ab ibn Lu’ai ibn Ghalib ibn Fihr al-Quraishi at-Tamimi’ dan ibunya adalah Ummu al-Khair binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim. Ayahnya diberi nama panggilan dengan Abu Quhafah karena itu ia dikenal sebagai Abdullah Ibn Quhafah.

Abdullah Ibn Quhafah Ibn Amir Ibn Ka’ab dikenal dengan nama Abu Bakar dan mendapat julukan Ash Shiddiq. Ia juga dikenal dengan nama Atiq karena mendapat jaminan bebas dari api neraka. Dalam satu hadish Rasullah bersabda, “Siapa  yang ingin melihat orang yang bebas dari api neraka (atiq), lihatlah Abu Bakar”. Rasullah juga pernah bersabda, “jika aku diperkenankan mencari kekasih, maka aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasihku.”

Abu Bakar Ash Shiddiq dilahirkan dua tahun beberapa bulan setelah lahirnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar Ash Shiddiq tumbuh di kota Makkah, dan tidak meninggalkan kota tempat tinggalnya kecuali untuk tujuan berdagang. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah penghulu suku Quraisy, dan ahlu syura diantara mereka pada zaman jahiliyah.

Ia juga terkenal sebagai orang yang meninggalkan khomr (minuman keras) pada masa jahiliyah, ketika Abu Bakar Ash Shiddiq ditanya: ”Apakah engkau pernah meminum khomr dimasa jahiliyah?” Abu Bakar Ash Shiddiq menjawab: “A’udzubillah (aku berlindung kepada Allah)”, kemudian Abu Bakar Ash Shiddiq ditanya lagi, “Kenapa?” , Abu Bakar Ash Shiddiq menjawab: “aku menjaga dan memelihara muru’ahku (kehormatanku), apabila aku minum khomr maka hal itu akan menghilangkan kehormatan dan muru’ahku.”

Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang bertubuh kurus, berkulit putih. ‘Aisyah putrinya dan juga istri Rasulullah menerangkan karakter ayahnya, “Abu Bakar Ash Shiddiq berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggangnya (sehingga kainnya selalu turun dari pinggangnya), wajahnya selalu berkeringat, hitam warna matanya, berkening lebar, dan selalu mewarnai jenggotnya dengan innai maupun katam.”

Abu Bakar Ash Shiddiq dan Islam

Muhammad ibn Abdullah (Rasulullah) dan Abdullah Ibn Abi Quhafah (Abu Bakar Ash Shiddiq) telah bersahabat sejak kecil.

Abu Bakar Ash Shiddiq turut berbahagia ketika sahabatnya, Muhamad, dipercaya orang – orang Quraisy menjadi penengah kabilah-kabilah yang bertikai soal kabilah mana yang lebih berhak meletakkan Hajar Aswad di tempatnya setelah ka’bah selesai di pugar. Dengan keadilan dan kebijaksanaan, Muhammad berhasil memberikan keputusan yang dapat diterima masing – masing kabilah. Muhammad berhasil menghindarkan mereka dari pertikaian fisik.

Fajar islam telah terbit di Makkah saat Allah mengangkat Muhammad sebagai Rasul yang mengarahkan manusia kepada kebenaran dan imam, mengajak manusia menyembah hanya kepada Allah dan meninggalkan berhala – berhala sembahan mereka. Tujuan dakwah Rasullah adalah mengangkat martabat dan menghargai akal manusia. Namun, penduduk Makkah justru menolak. Bisikan setan masih terlalu nyaring mengiang di telinga mereka.

Ajaran yang Rasullah dakwahkan adalah perlawanan terhadap kemerosatan moral, kekafiran dan kesesatan. Tetapi cahaya dakwahnya terlalu terang untuk diterima mata orang – orang Makkah. Hanya sedikit yang mempercayai Muhammad : istrinya (Khadijah), sepupunya (Ali bin Abi Thalib), dan sahayanya (Zayd Ibn Haritsah).

Sahabat kecilnya, Abdullah Ibn Abi Quhafah adalah orang tua pertama yang mempercayai kerasulan Muhammad. Sebab itulah Abdullah Ibn Abi Quhafah dijuluki Abu Bakar Ash Shiddiq dan kemudian ia lebih dikenal dengan nama itu.

Islam telah diterima oleh sebagian penduduk Makkah, terutama para budak, meski dengan cara sembunyi – sembunyi karena khawatir diintimidasi orang – orang yang menolak Islam. Kondisi demikian berlangsung selama tiga tahun, sampai pada suatu ketika Rasullah menyerukan dakwahnya secara terbuka di atas bukit Shafa. Setelah Rasullah menyampaikan kerasulannya secara terbuka di bukit Shafa, Abu Bakar lebih berani membaca Al Qur’an dengan suara nyaring. Ada orang yang tersentuh dengan bacaan Abu Bakar itu, kemudian masuk Islam. Ada pula yang tidak suka, kemudian marah dan memukulnya. Abu Bakar pingsan oleh pukulan itu. Ia telah siap dengan segala kemungkinan risiko dan tak gentar untuk selalu membaca Al Qur’an dengan suara nyaring. Saat siuman, yang pertama Abu Bakar katakan adalah, “Bagaimana keadaan Rasulullah”  Abu Bakar akan menolak makanan dan minuman yang ditawarkan kepadanya sampai ia yakin bahwa Rasulullah baik – baik saja.

Allah mengkehendaki sebuah hikmah saat menakdirkan Rasulullah tak pandai membaca dan menulis aksara, dan menakdirkan Abu Bakar sebaliknya. Abu Bakar sangat memahami

Ketika Rasulullah menyerukan dari bukit Shafa bahwa beliau telah melakukan (isra) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian naik (mi’raj) ke Sidratul Muntaha di malam sebelum ia menyerukan peristiwa tersebut, mengejutkan banyak orang, termasuk mereka yang sudah masuk islam. Bagaimana mungkin, jarak Makkah dan Baitul Maqdis bisa ditempuh hanya dalam satu malam, sedang dengan unta saja akan menghabiskan waktu lebih dari satu bulan.

Orang – orang yang masih bimbang dan ragu dengan pengakuan isra’ mi’raj Rasulullah akhirnya akhirnya mendatangi Abu Bakar Ash Shiddiq yang saat itu tidak hadir mendengar pengakuan tersebut, untuk mengutarakan keraguan mereka. Sambil tersenyum, Abu Bakar menanggapi, “jika Muhammad yang mengatakan, berarti benar. Aku percaya pada kenabiannya dan wahyu yang telah diturunkan kepadanya. Dan, aku juga percaya pada apa yang ia katakana hari ini!”

Selain itu, sebagian sebagian orang yang menganggap cerita itu sulit diterima mulai berpikir ulang. Sebab, Rasulullah menggambarkan beberapa kafilah yang beliau temui dalam perjalanan pulang dari Isra’ Mi’raj. Beliau juga mengatakan di mana mereka kini berada dan kapan mereka diperkirakan akan tiba di Makkah. Ternyata setiap kafilah tiba tepat seperti yang diperkirakan. Begitu pula dengan rincian yang beliau gambarkan.

Ketika peristiwa Hijrah, saat Rasulullah  pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemaninya.

Setelah Baiat ‘Aqabah kedua, kaum muslim Quraisy mulai banyak yang berhijrah. Di antara yang lebih dulu berangkat adalah beberapa sepupu Nabi, sahabatnya Utsman dan Umar. Hampir semua sahabat terdekat Rasulullah telah meninggalkan Makkah kecuali Ali bin Abu Thalib dan Abu Bakar Ash Shiddiq. Abu Bakar sebenarnya telah meminta izin kepada Rasulullah untuk berangkat hijrah, namun beliau berkata:  “tidak usah terburu – buru berangkat karena mungkin Allah akan memberimu seorang teman,” Abu Bakar mengerti bahwa ia harus menunggu Rasulullah.

Di pihak Quraisy, mereka merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah. Jibril datang kepada Rasulullah dan memberitahukan apa yang harus dilakukan. Waktu itu sore hari, Rasulullah langsung pergi ke rumah Abu Bakar – waktu kunjungan yang tidak seperti biasanya – beliau biasa berkunjung ke rumah Abu Bakar pada sore hari. Rasulullah berujar, “Allah telah mengizinkan aku untuk meninggalkan kota ini dan berhijrah,” “Bersama denganku?” Tanya Abu Bakar. “ya bersamamu.” Jawab Rasulullah.

Setelah mereka selesai membuat rencana, Rasulullah kembali ke rumahnya dan memberitahu Ali tentang keberangkatannya ke Yastrib. Beliau menyuruh Ali untuk tetap tinggal di Makkah sampai semua barang – barang yang dititipkan di rumahnya selesai dikembalikan. Rasulullah senantiasa dikenal sebagai Al Amin, sehingga masih banyak dipercaya orang – orang kafir untuk menjaga harta benda mereka karena tidak menemukan orang lain yang dapat dipercaya.

Para pemuda Quraisy yang dipilih untuk membunuh Rasulullah telah sepakat untuk bertemu di luar gerbang rumah beliau saat malam tiba. Namun ketika mereka sedang menunggu sampai jumlah mereka lengkap, mereka mendengar suara wanita dari dalam rumah, hal itu membuat mereka berpikir ulang untuk masuk ke dalam rumah. Jika mereka menerobos masuk maka nama mereka akan tercemar selamanya di kalangan bangsa Arab karena telah melanggar privasi kaum wanita. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk menunggu sampai korbannya keluar rumah. Seperti biasanya, ia akan keluar di waktu subuh atau sebelumnya.

Rasulullah dan Ali mengetahui kehadiran mereka. Rasulullah mengambil selimut yang biasa ia kenakan untuk tidur dan memberikannya kepada Ali. Ali kemudian tidur di tempat tidur Rasulullah menggantikannya. Kemudian Rasulullah mulai membacakan surah yang diberi nama dengan kalimat pembukanya, Yasin. Ketika sampai pada kalimat, “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan dibelakang mereka dinding pula, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS 36 : 9), beliau keluar dari rumah. Allah menutup pandangan para pemuda Quraisy itu hingga mereka tidak melihat saat Rasulullah keluar dari rumahnya.

Rasulullah lantas bertemu dengan Abu Bakar, dan tanpa membuang waktu mereka keluar dari rumah Abu Bakar melalui jendela belakang rumahnya. Dengan ditemani anak Abu Bakar – Abdullah mereka menunggangi unta menuju sebuah gua di gunung Tsawr agak selatan – jalur ke arah Yaman.

‘Amir Ibn Fuhayra – pengembala yang telah dibeli Abu Bakar sebagai budak dan sudah bebas serta ditugasi mengembala domba – dombanya – mengikuti mereka di belakang bersama gembalanya untuk menghilangkan jejak mereka. Setelah sampai di gua, Abu Bakar mengirim putranya Abdullah pulang ke rumah beserta kedua untanya.

Pada malam berikutnya, Abdullah kembali ke gua bersama saudara perempuannya Asma membawakan makanan. Mereka melaporkan bahwa Quraisy menawarkan hadiah seratus ekor unta bagi siapa saja yang dapat menemukan Muhammad dan membawanya kembali ke Makkah.

Pada hari ketiga, para pencari melakukan pencarian di bukit Tsawr. Mereka memanjat ke arah gua. Rasulullah yang berada di dalam gua bersama Abu Bakar menoleh ke arah Abu Bakar, “jangan bersedih karena sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS 9: 40), namun ketika para pencari berada di muka gua, mereka sepakat untuk tidak mencari kedalam karena menurut mereka Rasulullah tidak mungkin berada di dalamnya.

Ketika para pencari telah pergi, Rasulullah dan Abu Bakar pergi mulut gua. Di sana, di depannya, hampir menutupi jalan masuk, ada sebuah pohon akasia kira – kira setengah tinggi manusia yang pagi itu belum ada, dan di celah antara pohon dan dinding gua terdapat seekor laba – laba telah membuat sarangnya. Bahkan di tempat orang kemungkinan melangkah ada seekor burung merpati telah bersarang dan sedang duduk seakan akan mengerami telur telurnya.

Ketika itu Asma dan Abudullah telah kembali ke gua, dengan tidak mengganggu hewan hewan yang telah melindungi mereka dari para pencari tersebut, Rasulullah dan Abu  Bakar lalu meninggalkan gua. Kala itu Rasulullah menunggangi unta kesayangannya Qashwa menuju Yastrib (madinah).

Abu Bakar juga terikat dengan Nabi Muhammad secara kekeluargaan. Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad beberapa saat setelah Hijrah.

Abu Bakar Ash Shiddiq banyak memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keislamannya di jalan Allah, seperti Bilal radhiyallahu anhu.

Pada suatu siang yang terik, Abu Bakar sedang berjalan. Dalam perjalanannya ia melihat Bilal Ibn Rabah sedang disiksa  oleh tuannya, Umayah ibn Khalaf. Bilal terlentang di atas pasir, bertelanjang dada dan hanya bercelana pendek. Seonggok batu besar menindih dadanya. Sambil berkali – kali menerima cambukan, ia dipaksa tuannya untuk meninggalkan agama baru yang ia peluk – Islam dan kembali menyembah berhala.

Abu Bakar berusaha mencegah tindakan Umayah, namun Umayah malah membentaknya, “Kau dan sahabatmu (Muhammad) telah merusak hubungan para budak dan tuan – tuan mereka. Dan Bilal salah satu dari mereka yang pantas menerima hukuman seperti ini.”

Abu Bakar lalu menawar Bilal dengan lima uqiyah emas (1 uqiyah = 29,75 gram). Umayah lantas menerimanya. Abu Bakar lantas membebaskan Bilal. Bukan hanya Bilal yang dibebaskan Abu Bakar, dengan 40,000 dirham ia membeaskan budak lainnya antara lain : Amir Ibn Fahirah, Nadzirah, Nahdiyah beserta putrinya, dan Ummu Abas.

Di samping itu Abu Bakar Ash Shiddiq juga mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rosulullahu shalallahu ‘alaihi wa sallam baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota Makkah, Hunain maupun peperangan di Tabuk.

Dan saat perang terjadi ketika Rasulullah saw memobilisasi sahabatnya untuk menginfakkan dan menyumbangkan hartanya, maka Abu Bakar langsung membawa seluruh hartanya kemudian memberikannya kepada Rasulullah saw, dan melihat demikian Rasulullah saw berkata : Adakah sesuatu yang engkau sisakan untuk keluarga kamu ? Abu Bakar Ash Shiddiq berkata : Saya tinggalkan mereka Allah dan Rasul-Nya, kemudian datanglah Umar dengan membawa setengah dari hartanya, lalu Rasulullah saw berkata kepadanya : adakah sesuatu yang engkau tinggalkan untuk keluargamu ? Umar menjawab : Ya, setengah dari harta saya. Ketika Umar mendengar apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar Abu Bakar Ash Shiddiq berkata : “Demi Allah saya tidak akan pernah bisa mengungguli Abu Bakar”. (At-Turmudzi)

Perang Badar menjadi saksi sifat pengasih Abu Bakar dan cintanya pada kedamaian. Selesai peperangan, pasukan Islam berhasil menyandera beberapa tentara kafir Quraisy diantaranya Abbas ibn Abdul Muthalib dan al Walid ibn al Walid ibn Al Mughirah. Kebiasaan Rasulullah apabila wahyu belum turun ia akan meminta pendapat sahabatnya. Ketika itu Abu Bakar dimintai pendapatnya,ia menjawab, “Rasulullah, mereka masih keluarga dan kerabatmu. Sebaiknya kaulepas saja mereka. Kita berharap Allah memberikan mereka hidayah kemudian menjadi pendukung kita.” Ketika itu Umar memiliki pendapat berbeda. Akhirnya disepakati bahwa para tawanan diharuskan membayar denda atau mereka harus mengajarkan baca tulis kepada kaum muslimin.

Perang Uhud menjadi saksi ketulusan Abu Bakar. Ketika para petugas yang seharusnya menjaga Rasulullah berpencar. Abu Bakar segera mendekati Rasulullah dan melindunginya. Abu Bakar ikut dalam perang khandaq dan perang Bani Mustaliq, ikut menjadi rombongan umrah Rasulullah, menjadi peserta perjanjian damai Hudaibiyah dan ikut dalam rombongan umrah qada pada tahun 7 H. Abu Bakar juga termasuk dalam pasukan perang pada peristiwa fathu Makkah, setelah peristiwa itu ayah Abu Bakar masuk islam. Pada perang Tabuk Abu Bakar menjadi pemegang panji – panji pasukan. Karena itu, pada pelaksanaan haji tahun 8 H, Rasul bersedia melaksanakan haji bersama kaum muslim untuk mewakili Abu Bakar.

Dalam riwayat al-Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu` anhu, bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah Abu Bakar Ash Shiddiq yang berada di daerah Sunh. Abu Bakar Ash Shiddiq turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke masjid. Abu Bakar Ash Shiddiq tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah Rasulullah yang ditutupi dengan kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata: “demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah meninggal.” Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang. Maka Abu Bakar berkata : “duduklah wahai Umar!” Namun Umar enggan untuk duduk. Maka orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata: “Amma bad`du, barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah telah berfirman: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang”. (Ali Imran : 144)

Ibnu Abbas radhiyallahu` anhuma berkata: “demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang menerima ayat Al-Qur`an itu, tak seorangpun diantara mereka yang mendengarnya melainkan melantunkannya.”

Sa`id bin Musayyab rahimahullah berkata : bahwa Umar ketika itu berkata: “Demi Allah, sepertinya aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku sudah tahu bahwa nabi memang sudah meninggal.”

Abu Bakar Ash Shiddiq dan istrinya

Abu Bakar Ash Shiddiq pernah menikah dengan Qutaylah bint Abd-al-Uzza yang kemudian diceraikan karena tidak menerima Islam sebagai agama dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma’. Istrinya yang lain, Um Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin Dahman dari Kinanah, menjadi Muslimah dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan ‘Aisyah. Juga semua anaknya kecuali ‘Abd Rahman ibn Abi Bakar menerima Islam. Sehingga ia dan ‘Abd Rahman berpisah.

Abu Bakar Ash Shiddiq juga menikah dengan Asma’ binti Umais bin ma’add bin Taim al-Khatts’amiyyah, dan sebelumnya Asma’ diperistri oleh Ja’far bin Abi Thalib.

Abu Bakar Ash Shiddiq juga menikah dengan Habibah binti Kharijah bin Zaid bin Zuhair dari Bani al-Haris bin al-Khazraj.

Abu Bakar pernah singgah di rumah Kharijah ketika Abu Bakar Ash Shiddiq datang ke Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan Abu Bakar Ash Shiddiq masih terus berdiam dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh hingga Rasullullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan Abu Bakar Ash Shiddiq kemudian diangkat menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah shalallahu ‘alihi wa sallam. Dari pernikahan tersebut lahirlah Ummu Khultsum setelah wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Abu Bakar Ash Shiddiq dan Masa Kekhalifahannya

Selama masa sakit Rasulullah SAW saat menjelang ajalnya, dikatakan bahwa Abu Bakar ditunjuk untuk menjadi imam shalat menggantikannya, banyak yang menganggap ini sebagai indikasi bahwa Abu Bakar akan menggantikan posisinya. Segera setelah kematiannya (632), dilakukan musyawarah di kalangan para pemuka kaum Anshar dan Muhajirin di Madinah, yang akhirnya menghasilkan penunjukan Abu Bakar sebagai pemimpin baru umat Islam atau khalifah Islam.

Menurut `ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika Abu Bakar Ash Shiddiq telah dibai`at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata : “sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.” Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata : “tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam.” Terbukti, Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.

Segera setelah Abu Bakar menjadi khalifah, beberapa masalah yang mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam saat itu muncul. Beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada. Beberapa di antaranya menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan berhala. Suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad SAW dan dengan kematiannya komitmennya tidak berlaku lagi. Berdasarkan hal ini Abu Bakar menyatakan perang terhadap mereka yang dikenal dengan nama perang Ridda. Dalam perang Ridda peperangan terbesar adalah memerangi “Ibnu Habib al-Hanafi” yang lebih dikenal dengan nama Musailamah Al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad SAW. Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid.

Rasulullah pernah kehilangan tujuh puluh sahabatnya, semua para penghafal Al Qur’an. Mereka terbunuh dalam peperangan tak seimbang di Bi’ru Ma’unah (tepatnya adalah penyerbuan, karena ke tujuh puluh sahabat itu sebenarnya bukan pasukan perang melainkan utusan Rasulullah untuk mengajarkan Al Qur’an)

Pada masa Abu Bakar juga terjadi perang Yamamah yang juga merenggut tak sedikit nyawa para penghafal Al Qur’an. Kondisi itu tentu mengkhawatirkan kelestarian Al Qur’an. Sebab itu, Umar bin Khaththab berinisiatif mengumpulkan catatan – catatan ayat Al Qur’an yang terpisahnya. Awalnya Abu Bakar menolak inisiatif Umar karena Rasulullah tak pernah melakukan juga tak pernah memerintahkan hal demikian. Namun akhirnya Abu Bakar menyetujui dan membentuk panitia kodifikasi dengan Zayd ibn Tsabit sebagai ketuanya. Dalam waktu tahun ayat – ayat Al Qur’an itu dapat dihimpun. Abu Bakar kemudian menyimpan mushaf Al Qur’an tersebut pada Umar bin Khaththab yang kemudian setelah Umar meninggal, putrinya Umar Hafshah yang menyimpannya.

Abu Bakar Ash Shiddiq wafat

Abu Bakar meninggal pada tanggal 23 Agustus 634 di Madinah pada usia 63 tahun. Menurut para `ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Abu Bakar Ash Shiddiq Abu Bakar Ash Shiddiq berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri Abu Bakar Ash Shiddiq. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah) . Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah. Abu Bakar dimakamkan di rumah Aishah di dekat masjid Nabawi, di samping makam Rasulullah SAW.

Sekiranya saya boleh mengambil seseorang untuk dijadikan (khalil) teman dekat; maka aku akan memilih Abu Bakar, tapi Abu Bakar Ash Shiddiq adalah saudaraku dan sahabatku”. (Al-Bukhari)

Reference :

  1. Abu Bakar Siraj al Din – Martin Lings ‘Muhammad his life based on the earliest source’ – Serambi, 1991
  2. Fathi Fawzi Abd al-Muthi , Detik-Detik Penulisan Wahyu : Kisah Nyata 20 Sekretaris Nabi dan Pencatat Ayat-Ayat Suci Al-Quran , Zaman, 2009
  3. Abu Ahmad, Mutiara kehidupan para sahabat : Abu Bakar Ash Shiddiq sosok yang memiliki hati mulia dan jiwa bersahaja, Al Ikhwan.net, 2008
  4. DR. Muhammad as-Sayyid al-Wakil, Al-Bidayah wan Nihayah,  Jaulah Tarikhiyah fi ‘Asri al-Khulafa’ ar-Rasyidin
  5. Abu Thalhah in Salaf, Abu Bakar Ash Shiddiq, 2009
  6. Wikipedia, updated 11 Agustus 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.