In searching of the right man

Tulisan ini hadir setelah saya membaca ‘note’ salah satu sahabat saya yang sungguh memberi inspirasi.  Ia menulis tentang seorang manusia biasa yang menulis surat lamaran yang luar biasa. Tapi, bukan surat lamarannya yang sebenarnya menggugah saya. Penekanan bahwa menyerahkan scenario hidup kita kepada Allah akan menjadikan hidup kita indah, yang membuat saya tergugah.

Anggaplah si wanita bernama Aaila.

Selama hidupnya, Aaila mengalami banyak hal yang cukup menguras air mata, kesabaran, serta keteguhan iman. Tapi, siapa yang tidak? Manusia memang ditakdirkan untuk menjalani proses kehidupan yang berdinamika. Salah satu perjalanan hidup tersebut membuat Aaila sangat berhati – hati dalam memilih pasangan. karena, hampir setiap pria yang mencoba memasuki hidupnya selalu menyisakan kekuatan baru (sebenarnya mereka menghadirkan luka – tapi, luka itu membuatnya semakin kuat toh) hingga terkadang ia hampir putus asa dalam menemukan ‘the right man’.

Aaila bukanlah wanita yang pesimis. Baginya, ia tidaklah buruk, ia masih memiliki norma – paling tidak belum pernah ada yang memprotes tingkah lakunya karena dianggap tidak sopan, ia tidaklah bodoh, paling tidak sebagai tenaga pengajar  ia akan selalu berupaya meningkatkan kemampuan intelektualnya, ia termasuk wanita independen – pekerjaannya selain tenaga pengajar cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Masak? hampir setiap hari – dan menjadi wanita pekerja single sama sekali bukan kendala melakukan rutinitas memasak, atau hal – hal lain di rumah, parasnya juga lumayan – paling tidak menurut orang – orang  terdekatnya. Semua hal diatas bukan ditujukan atas nama kesombongan, ia hanya merasa bersyukur – sangat – atas karunia yang Allah berikan. Dan baginya rasa mensyukuri keadaan diri adalah salah satu bagian dari menemukan pria yang paling tidak memiliki sifat percaya diri.

Tapi, kenapa – sampai saat ini ia belum menemukan ‘the right man’ . Ia percaya bahwa semua manusia diciptakan berpasangan, “segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu menyadari (kebesaran Allah)” (QS Al-Dzariyat : 49).

Jadi, entah nyelip dimana pasangannya itu. Wajar rasanya, apabila di saat tertentu ia merasa tidak nyaman berada di lingkungan kerja yang mayoritas adalah pria – dan ia single. Bukan masalah godaannya, Insha’Allah kalau untuk godaan itu tergantung diri masing – masing “ Si empunya diri mau atau tidak menerima godaan tersebut” bukan “bisa atau tidak bisa”.  Tapi, seringkali ada pengkotakan yang tanpa disadari dilakukan oleh rekan kerja, misalnya yang lain bisa tidak lembur karena memiliki tanggung jawab di rumah, sementara rasanya tidak ada alasan bagi si single untuk tidak lembur.

Sebagai wanita, Aaila pasti ingin menikah. Sebuah pernikahan yang dapat meningkatkan rasa cintanya kepada Allah, pernikahan yang dapat menghadirkan anak – anak yang shaleh dan shalehah, pernikahan yang didasari sunah rasul dan nilai – nilai islami.

Sempat Aaila berpikir, bisa saja pernikahan yang tidak kunjung terwujud tersebut dikarenakan ia terlalu letih dikecewakan, hingga ia tidak dapat melihat ‘the right man’ yang mungkin saja ada di dekatnya. Itu bisa saja, tapi ada hal lain yang menghentakkan batinnya, “Allah tidak mungkin menciptakan pasangan untuk hambaNya, kemudia Ia menghalangi hambaNya untuk menemukan pasangan tersebut” jadi, pria itu sudah ada – telah tersedia dengan pasti – available namun ia belum bertemu dengannya. Sebagian hati berkata belum waktunya, tapi sebagian besar lainnya berkata “Pria tersebut telah berada di level 5, dan saat ini ia berada di level 3, karena itu ia harus berupaya sampai ke level 5” !

Pemikiran tersebut bukanlah lantas menjadi alasan merubah orientasi beribadah untuk sekedar mencari si pria tersebut. Pemikiran ini memacu untuk tetap optimis, untuk tidak merasa berkecil hati karena menjadi single atau lantas menilai diri kurang baik. Demikian itu akan menjerumuskan diri kepada bentuk ketidakbersyukuran, tetapi sebagai manusia seorang wanita harus selalu meningkatkan diri, keimanan, simplenya – memperbaiki shalat, puasa, ibadah sunah, perilaku, dsb. Dan di dalam QS Al-Nur : 26, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita  yang keji. Dan Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”

Hingga rasanya tidak ada alasan bagi Aaila untuk tidak meyakini bahwa apabila ia mengharapkan jodoh yang baik, ia pun harus berupaya menjadi wanita shalehah juga.

Dengan diiringi keihklasan, apa – apa yang ditetapkan Allah adalah yang terbaik untuk  hambaNya. Meski kadang sulit membaca scenario Allah – karena setan pasti ada disekitar manusia dan bahwa Allah-lah maha segalanya yang mampu merubah ketidakmungkinan menjadi mungkin bahkan pasti. Jangan takut meminta kepada Allah – mintalah Insha’Allah dikabulkan. Mintalah jodoh yang baik, dengan terus meningkatkan kualitas diri. Insha’Allah, suatu hari nanti  bisa bersanding dengan pria yang mampu menjadi imam dunia akhirat untuk keluarga, amin amin amin.

Advertisements

One response to “In searching of the right man

  1. Pingback: In Searching of The Right Man – Part 2 « Souraiya Farina's World·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.