Ini awal buat senyumku

Semula, harapan yang ada adalah
kita bisa jadi teman selamanya.

toh, kita memang menghabiskan masa kecil bersama. Tapi, kau juga yang membuatku merasakan hal (yang seharusnya tidak pernah kau ajarkan) yang kurasakan ini. kau pula, yang (entah sengaja atau tidak) menyelipkan rasa yang membuat manusia melayang ini.

Tapi kemudian, kau pula yang menghempaskanku. memang tidak pernah ada kata terucap, tidak pernah ada janji yang tercipta. Ketika ku tak tau apapun, dengan luguku – kau membuatku percaya dengan yang kau lakukan dan ajarkan padaku.

ENTAH KAU SENGAJA ATAU TIDAK!!! tapi semua yang kau lakukan, membuatku percaya dan meyakini janji yang tak terucap, janji yang seolah kau tanamkan di hatiku melalui tatapan mu, melalui genggaman tanganmu.

mungkin kau memang menganggapku adik kecilmu, tapi tidak begitu cara seorang kakak memperlakukan adiknya!

aku tidak bisa menjabarkan, meneriakkan semua yang telah ku rasakan untukmu. semua mungkin tidak berarti bagi siapapun. Tapi siapa pula yang memikirkan itu.

Bagiku, ini teramat sakit. Apalagi ketika kau memilih gadis lain. yang secara fisik melebihi aku (entah jiwanya), dan kau tetap menjadi kau!!!

kau tetap kau, yang memperlakukan ku dengan janji tak terucapmu!!, hingga kau resmi menjadi miliknya – kau tetap menatapku dengan tatapan yang sama, dengan debaran yang kurasakan masih sama.

mungkin kau memang tidak punya rasa itu, namun hatiku berkata lain. aku merasakannya, aku wanita yang tidak bodoh. kau pula yang mengajariku untuk tidak menjadi bodoh. Pengalamanku dengan mu membuatku tidak ingin menjadi bodoh.

dengan ucapan orang tuamu padaku, seolah aku memang tidak pantas untukmu.
apa memang sedemikian tidak pantasnyakah aku??
apa cinta dilihat dari fisik dan harta semata? dan kutau kau sangat mencintai keluargamu, kau tidak dapat hidup tanpa mereka..tapi bisa tanpa ku.
aku – yang menurut keluargamu tidak sepadan untukmu.

kini, di tengah kemesraan kau dan ia. aku mencoba untuk tetap tersenyum, menjadikan semua yang kita lalui (seolah) rahasia kecil kita berdua.

meski, tetap ku merasakannya perasaan antara kau dan aku, namun siapa yang bisa mengingkari kebersamaan biologis (yg kini tengah kau jalani bersamanya) bisa menimbulkan (paling tidak) rasa perduli. dan yang terpenting kalian resmi saling memiliki. dan telah ada penghubung antara kau dan ia. aku tidaklah lagi berarti.

dan bisakah kau berhenti bersikap seperti itu. cukup!! cukup kau berlaku seperti kau yang biasanya padaku. karena semua yang kau lakukan membuatku sakit. aku hanya berharap tidak pernah mengenal rasa ini (tapi sudah kurasakan) dan membuatmu hilang dari kehidupanku (yang kutau tdk lah mungkin).

bantu aku dengan menjauhiku!!

dan aku harus tetap menjalani rasa ini, yang ku tau tidak akan pernah hilang. tidak- tidak, aku tidak akan larut, menangisi keadaan ini terus- menerus, rasa pilunya boleh ada. tapi bibirku tetap tersenyum, dan aku tetap kan meraih mimpiku (meski kau telah tidak menjadi bagian darinya).

SFA – 29.01.2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.